Apa nilaian hidup sendiri?


Helping Hand, originally uploaded by gabylee60.


Mungkin kita berfikir, apa perlunya hidup bagi orang lain?. Tapi kata-kata Sayyid Qutb “orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tetapi orang yang hidup bagi orang lain, ia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagi orang besar”.

Lihatlah junjungan besar, Muhammad s.a.w menjadi orang yang dikagumi dunia bahkan oleh musuh-musuhnya. Baginda rela menempah risiko diboikot selama tiga tahun sehingga diriwayatkan sampai memakan rumput kering, hanya agar orang-orang tidak lagi menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri dari batu atau tepung yang apabila lapar mereka sendiri akan memakan patung-patung itu. Hanya agar orang-orang tidak lagi saling membunuh dan menghina kedudukan wanita, sampai mengubur bayi-bayi perempuan mereka hidup-hidup hanya karena alasan tidak logik; Malu!

Generasi Al-Qur’an yang Unik

Lihatlah juga para sahabat Muhammad yang diiktiraf sebagai generasi terbaik yang pernah lahir di dunia kita yang sudah tua ini, Sayyid Qutb menyebutnya “Generasi Qur’ani yang unik”, “Suatu generasi pilihan sepanjang sejarah Islam dan sejarah manusia,yang mana generasi sehebat ini tidak lagi dihasilkan dalam sejarah Islam”. Tengoklah kisah kepahlawanan mereka dalam perang Uhud, saat tiga orang di antara mereka menderita karena luka-luka jihad dan kehausan air dingin yang menyegarkan. Seorang di antara mereka meminta seteguk air. Saat didatangi untuk diberi air, ia melihat sahabat ke-2 juga kehausan, iapun meminta agar air itu diberikan kepada sahabat ke-2 terlebih dulu. Sesampainya air pada sahabat ke-2, ia melihat sahabat ketiga jauh lebih kehausan. Dimintanya air itu agar lebih dulu diberikan kepada sahabat ke-3. Sesampainya air itu pada sahabat ke-3, ia berfikir tentu sahabat pertama sudah tidak tahan lagi menahan haus, iapun meminta agar air itu diberikan pada sahabat pertama. Namun, saat air itu sampai pada sahabat pertama, ia telah syahid, begitupun dengan sahabat ke-2 dan dan sahabat ke-3, telah dijemput bidadari menuju negeri abadi yang tidak dapat ditandingi; Syurga.

Begitulah orang-orang terdahulu hidup bagi orang lain. Mereka hidup sebagai orang-orang besar yang dicatat sejarahnya. Namun hidup bagi orang lain tidaklah mudah, di sana ada pengorbanan besar yang harus dibayar mahal. Tidak cukup sekadar waktu, tenaga, harta atau jiwa, tetapi kadang-kadang sampai mengorbankan perasaan manusiawi mereka sendiri.

Itulah mengapa Hasan Al-Banna tetap memutuskan pergi memenuhi panggilan dakwah walau seorang anaknya sakit keras. Saat itu ia hanya berkata, ” Saya tetap tidak akan pernah bisa menyelamatkan anak ini, walaupun saya tetap berada disisinya” atau itulah jawaban mengapa, Ibnu Taimiyah dan Sayyid Qutb tidak pernah sempat merasakan kelembutan hati dan layanan seorang isteri. Setahu kita, sebahagian besar hidup mereka memang menikmati penjara penguasa. Dan mungkin, itulah alasan mengapa Hanzalah rela meninggalkan kenikmatan halal di malam pertamanya demi memenuhi panggilan jihad, walaupun ia belum lagi sempat mandi wajib. Beliau syahid dalam perang itu dan mendapat kehormatan dari Allah; Dimandikan malaikat-malaikat yang tidak punya dosa.

Lantas, pilihan di tangan anda. Meneruskan kehidupan dengan hanya sibuk berurusan dengan masalah dan keperluan diri; makan, pakaian, keluarga, belajar semata-mata atau mulai melangkah perlahan-lahan meraih redha Ilahi dengan berkongsi nilai iman dan kehidupan sebagai sahabat di lingkunganmu.

Ingatlah hadis Nabi s.a.w.

”Sebaik-baik kamu ialah orang yang paling bermanfaat pada orang lain”

1 opini:

2minit said...

Allah...allah!
Terasa benarnya..

"!خير الناس أنفعهم للناس"

Post a Comment