Pabila hati kian menyempit...

Hati yang lapang dapat diibaratkan seperti sebuah padang menghijau yang luas membentang; walaupun ada anjing, ada ular, ada kala jengking, dan ada beraneka binatang buas lainnya,pastilah padang itu akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah secara relatifnya bertambah kecil dibandingkan dengan keluasan padang yang luas terbentang.

Sebaliknya, hati yang sempit digambarkan seperti ketika kita berada di sebuah bilik air yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti ia mendatangkan masalah yang besar. Menjerit, melolong meminta tolong. Belum lagi jika dimasukkan anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pasti akan lebih kronik masalahnya.

Entah mengapa...... kita sering terjebak dalam satu dimensi pemikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak tenang, yang membuat fikiran kita berserabut, penuh dengan agenda dan rencana-rencana buruk. Waktu yang berlalu sering kali membuatkan hati mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian, bahkan lagi dendam kesumat.

Ah, sahabat. Sungguh.... alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hatinya sendiri. Dia akan mudah sekali tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak mampu memaafkan, kecuali hatinya sudah dipuaskan dengan melihat orang yang menyakitinya menderita, sengsara, atau tidak berdaya.

Padahal ternyata yang kita perhatikan dalam sirah dan kisah perjalanan hidup para Rasul, para Anbiya’, para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah mencontohkan kepada kita sikap pendendam, membenci atau busuk hati. Namun mereka menonjolkan sikap peribadi yang tegar dan kukuh bagai tembok, sama sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemuhan pahit, benci, dendam, dan perilaku-perilaku rendah lainnya. Peribadi mereka bagai pohon yang akarnya menghujam ke dalam tanah, begitu kukuh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang taufan sekalipun, tetap mantap tidak bergerak.

Tapi orang-orang yang berjiwa kecil, apabila dijentik dengan perkara-perkara remeh sekecil apapun, terus bertindak balas ; panik, amarah membara, dan dendam kesumat.


Jadi, jangan terlalu ambil cakna sangat dengan hinaan dan celaan orang lain. Nabi Muhammad, SAW, manusia yang ma’sum (terpelihara dari melakukan dosa), tetap saja pernah dihina, dicela, dan dipermainkan. Kalau junjungan Agung ini mampu bersabar dengan perilaku orang sebegini, apatah lagi kita yang asyik melaungkan bahawa kita cinta pada Baginda......


Ketahuilah bahwa antara nikmat yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah hati yang tenang dan aman.

Walaupun rumah kita sempit, tapi kalau hati kita lapang akan terasa luas ruangan rumah.

Walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, berbunga-bunga dengan kunjungan sahabat dan teman, hati akan terasa indah.

Walaupun badan kita penat, tapi kalau hati kita tegar, semangat akan terus membara.

Walaupun pakaian kita sederhana, bukan ‘branded’ sangat, tapi kalau hati kita riang, akan tetap dihormati.

..................................................................................................................................................................

Sebaliknya, apa ertinya rumah yang lapang kalau hatinya sempit?!

Apa ertinya Pizza, Nasi Yaman, Burger, Hot Chocalate, dan segala makanan enak lainnya, kalau hati sedang membara ?!

Apa ertinya bilik sejuk nan nyaman dengan penghawa dingin terbaik kalau hati mendidih ?!

Apakah penyelesaian bagi ini semua?

Pertama; kita harus sentiasa bersedia untuk memaafkan orang lain dan juga dikecewakan, karena hidup ini tidak akan selamanya mengikuti setiap keinginan dan kemahuan kita. Ertinya jangan sentiasa meletakkan diri kita di zon selesa. Cabar diri anda untuk keluar dari zon ini. Kita harus bersedia untuk berhadapan dengan situasi sesulit dan sepahit manapun. Bak kata pepatah; 'sediakan payung sebelum hujan'. Ertinya, hujan atau tidak hujan kita sudah siap bersedia.

Kedua; apa yang harus kita lakukan kalau terbukti ada orang yang menyakiti hati kita, adalah dengan jangan terlalu ambil endah dan begitu mudah terasa, sebab kita akan merugikan diri dan fikiran kita sendiri. Asyik memikirkan perbuatan yang tidak baik yang orang lain lakukan pada kita. Lupakan sahaja. Banyak lagi perkara besar dalam hidup yang kita perlu fikirkan. Yang memberi rezeki adalah ALLAH, yang mengangkat darjat seseorang adalah ALLAH, yang menghinakan seseorang juga adalah ALLAH. Mati-matian orang lain menghina, yakinlah kita tidak akan hina dengan penghinaan orang. Kita akan hanya menjadi hina dengan kelakuan hina kita sendiri.

Nabi SAW dihina, tapi tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal sengsara di dunia apatah lagi di akhirat.

Percayalah, semakin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang remeh, hidup kita akan menjadi semakin sengsara.

Yang pasti semakin kita mudah memaafkan orang lain, semakin kita berhati lapang, semakin kita mampu memahami orang lain, maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini, subhanallah.

Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, yang jernih, kerana ternyata berat sekali menghadapi hidup di era akhir zaman yang semakin mencabar ini dengan hati yang sempit.




2 opini:

Mukmin Mohd Khairi said...

syukran ya akhi..

ana rasa inilah dikatakan berjiwa besar.. hatinya sungguh lapang dengan agenda-agenda hidupnya untuk menyumbang pada kekuatan umat sehingga terlupa atau kurang terasa atau ambil kesah cercaan, kecaman atau ejekan orang kebanyakan..

Sungguh terasa, pengorabnan Nabi saw amat BESAR sekali.. mahal amat.. sangat bernilai..

Allahumma Salli Ala Saidi Ya Rasulallah..~

huzaifah said...

Moga Allah menerima setiap amal soleh kita...

Post a Comment